Kamis, 30-04-2026
  • Informasi PPDB : Ibu Susiyati - 081252705954 / Ibu Juwita K. - 085647222686Informasi PPDB : Ibu Susiyati - 081252705954 / Ibu Juwita K. - 085647222686Informasi PPDB : Ibu Susiyati - 081252705954 / Ibu Juwita K. - 085647222686Informasi PPDB : Ibu Susiyati - 081252705954 / Ibu Juwita K. - 085647222686Informasi PPDB : Ibu Susiyati - 081252705954 / Ibu Juwita K. - 085647222686Informasi PPDB : Ibu Susiyati - 081252705954 / Ibu Juwita K. - 085647222686Informasi PPDB : Ibu Susiyati - 081252705954 / Ibu Juwita K. - 085647222686Informasi PPDB : Ibu Susiyati - 081252705954 / Ibu Juwita K. - 085647222686Informasi PPDB : Ibu Susiyati - 081252705954 / Ibu Juwita K. - 085647222686
  • Informasi PPDB : Ibu Susiyati - 081252705954 / Ibu Juwita K. - 085647222686Informasi PPDB : Ibu Susiyati - 081252705954 / Ibu Juwita K. - 085647222686Informasi PPDB : Ibu Susiyati - 081252705954 / Ibu Juwita K. - 085647222686Informasi PPDB : Ibu Susiyati - 081252705954 / Ibu Juwita K. - 085647222686Informasi PPDB : Ibu Susiyati - 081252705954 / Ibu Juwita K. - 085647222686Informasi PPDB : Ibu Susiyati - 081252705954 / Ibu Juwita K. - 085647222686Informasi PPDB : Ibu Susiyati - 081252705954 / Ibu Juwita K. - 085647222686Informasi PPDB : Ibu Susiyati - 081252705954 / Ibu Juwita K. - 085647222686Informasi PPDB : Ibu Susiyati - 081252705954 / Ibu Juwita K. - 085647222686

NETEPI DHARMANING URIP

Diterbitkan : Kamis, 30 April 2026

REFLEKSI NILAI KESEJARAHAN

Oleh : Muh Iskandar, M.Pd. Gr.

Inspirasi terbesar dalam prosesi penciptaan manusia salah satunya adalah mengenai formula akan adanya totalitas pengabdian (penghambaan dalam konteks ibadah) sekaligus penyempurnaan tugasnya sebagai pemimpin (Khalifah fil ardh) di muka bumi ini.

Untuk mengemban tugas yang mulia yaitu mengabdi kepada Tuhan dengan memakmurkan bumi dan seisinya sekaligus memperbaiki dan memanfaatkan seluruh komponen dan potensi anugerah Tuhan semata-mata untuk kemaslahatan kehidupan mikrokosmos dan makrokosmos. Tidak serta merta dibiarkan begitu saja tanpa ada bekal dan persiapan yang memadai.

Dalam konteks nilai keislaman, sudah sangat jelas termaktub di dalam Al Qur’an mengenai essensi tugas kekhalifahan tersebut, diantaranya adalah :

Berikut adalah ayat-ayat utama Al-Quran yang mendasari konsep khalifah:

QS. Al-Baqarah: 30 (Dasar Utama):“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”…” Ayat ini menjelaskan misi manusia sebagai pemimpin dan pengelola bumi, bukan penguasa sewenang-wenang.

QS. Al-An’am: 165:“Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa (khalifah) di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebagian yang lain (dengan berbagai) derajat…” Ayat ini menegaskan kedudukan manusia yang ditunjuk langsung oleh Allah sebagai pengelola bumi.

QS. Fatir: 39:“Dialah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah (penguasa) di muka bumi…” Ayat ini mengulangi penegasan bahwa kedudukan manusia di bumi adalah sebagai wakil/pengelola.

QS. Sad: 26 “Wahai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil…” Ayat ini menegaskan bahwa amanah khalifah bertujuan untuk menegakkan keadilan.

Begitu sangat jelas dan gamblang penjelasan dan pesan yang disampaikan oleh Allah Swt. Melalui kalam-Nya mengenai fungsi dan tugas berkaitan eksistensi manusia di muka bumi.

Bentuk kemuliaan ini telah dianugerahkan oleh Sang Pencipta dengan disertakan segenap kemampuan akal budi. Sehingga dengan akal budi inilah manusia memungkinkan untuk berekplorasi dengan segala daya cipta, rasa, dan karsanya. Kemudian lahirlah apa yang selama ini kita kenal dengan istilah Kebudayaan. Hasil-hasil kebudayaan manusia tersebut adalah buah dari hasil refleksi dari realitas kehidupan yang dalam khazanah kejawa-an disebut dengan istilah Kasunyatan (konteks kesejarahan).

Namun demikian, dalam kenyataan fakta sejarahnya masih banyak ditemukan adanya kontradiksi dan penyimpangan dari peran tanggung jawab mulia tersebut. Masih banyak ditemukan adanya pola ketidakseimbangan antara perilaku manusia yang belum memiliki kemampuan untuk menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri, apalagi menjadi pemimpin bagi lingkungan dan masyarakat sekitarnya. Masih banyak ditemukan adanya manusia yang rakus dan serakah dalam mengekploitasi sumber daya alam tanpa batas yang dibenarkan. Banyak manusia yang tidak bisa bersinergi dengan konsep dan fungsi kearifan lokal (local wisdom) sebagai penyeimbang metabolisme alam semesta.

Salah satu dampak yang terjadi pada saat sekarang ini adalah terjadinya krisis ekologi. Yang merupakan akibat kesalahpahaman terhadap memahami konsep khalifah. Sebagaimana telah ditegaskan pula oleh Pakar Tafsir Al Qur’an Prof. M. Quraish Shihab yang menyatakan bahwa manusia di bumi berperan sebagai khalifah yang bertugas menjaga dan memakmurkan alam, bukan sebagai penguasa yang serakah dalam mengekploitasi sumber daya alam yang melampaui batas kewajaran. Posisi manusia sebagai pemimpin bukanlah bentuk otoriter terhadap alam, melainkan tanggung jawab dari Tuhan untuk menjaga keserasian alam. (disampaikan dalam Pengajian Ramadhan Tafsir al-Mishbah, hidup bersama Al Qur’an bertajuk Menjaga Alam, Tugas sebagai Khalifah).

Pola dan konsep yang menyimpang ini seyogyanya bisa direvisi dan direkonstruksi agar bisa kembali kepada pemahaman yang benar sebagaimana yang diharapkan. Hal ini bisa dilakukan melalui refleksi nilai kesejarahan. Manusia adalah makhluk pembelajar, yang mampu belajar dan berubah ketika mampu mengadopsi nilai-nilai kebaikan dari berbagai peristiwa sejarah yang dilampauinya. Artinya, media belajar manusia adalah sejarah itu sendiri. Dampak baik ataupun dampak buruk yang dialami manusia bisa prediksi dari alur perjalanan sejarah itu sendiri.

Para leluhur kita (para pendahulu) dalam menapaki perjalanan sejarahnya telah mewariskan berbagai konsep, wewarah ataupun pitutur luhur yang dapat kita ambil sebagai solusi dalam mengantisipasi berbagai dampak negatif dari kesalahan perilaku manusia, diantaranya adalah mengenai ajaran moralitas sekaligus pandangan hidup dari tata kelakuan (code of conduct) yang bisa diharapkan bisa menjadi pedoman (paugeran) dalam memenuhi kewajiban dan tanggung jawab sebagai kholifah di muka bumi.

Konsep filosofi tentang essensi dari pembahasan ini adalah apa yang kita kenal dengan konsep Memayu Hayuning Bawono, Mengasah Mingising Budi, Mamasuh Malaning Bumi. Yang artinya adalah memakmurkan bumi, mengasah kepekaan batin, dan menghilangkan segala bebendu dari bumi.

Konsep ini benar-benar selaras dengan apa yang menjadi proses penciptaan manusia. Dengan dasar pemahaman, pengalaman, dan penilaian kesejarahan.

Konsep filosofi yang telah dikembangkan oleh para leluhur itu pada dasarnya merupakan bentuk manifestasi dari hasil sinergitas dengan realitas kehidupan (kasunyatan). Manifestasi dari penyatuan akal budi dalam menyerap berbagai pengalaman kehidupan yang selalu berkembang secara dinamis.

Manusia dalam menjalankan proses transformasi nilai-nilai kehidupan demi menjalankan amanah, tugas dan kewajibannya akan sealu berdampingan dengan alam dan segala isinya. Yang menjadi komponen dan piranti penting yang memang sengaja diciptakan oleh Tuhan bagi manusia dalam penyempurnaan tugasnya. Sehingga boleh dikatakan bahwa alam adalah rahim dan sumber pengetahuan bagi manusia.

Maka tidak heran, jika para leluhur kita dalam dialektika sejarahnya sangat dekat keterkaitannya dengan alam. Bahkan bisa dibilang menyatu dengan alam. Mereka mampu membaca tanda-tanda alamiah, mampu memanfaatkan sumberdaya alamiah dengan pola kearifan lokal (local wisdom) dan term tata nilai kebudayaan dan kesejarahan.

Hal tersebut dikarenakan para leluhur kita sadar betul bahwa hakikat tugas dan kewajiban mereka di bumi ini adalah “ Menjalankan Darma Pengabdian dengan berlandaskan nilai-nilai kebaikan, kearifan, dan demi kemaslahatan seluruh alam semesta.”

Panjang umur Ilmu Pengetahuan !

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan